Saturday, October 24, 2009

Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II

Kabinet Indonesia Bersatu II diumumkan SBY Rabu, 21 Oktober 2009. Susunan lengkap personil yang membantu Soesilo Bambang Yudhoyono dan Dr. Boediono 2009-2014 ini adalah sebagai berikut :


Menteri Koordinator:
1. Politik, Hukum dan Ekonomi
Nama Lengkap : Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto
Lahir : Madiun, Jawa Timur, 2 Desember 1950
Jabatan tertinggi sebelumnya : Panglima Tentara Nasional Indonesia dari 13 Februari 2006 sampai 28 Desember 2007

2. Perekonomian
Nama Lengkap : Ir. M. Hatta Rajasa
Lahir : Palembang, 18 Desember 1953
Jabatan tertinggi sebelumnya : Menteri Sekretaris Negara di Kabinet Indonesia Bersatu (tahun 2007-2009), Menteri Perhubungan Kabinet Indonesia Bersatu (tahun 2004-2007) dan Menteri Negara Riset dan Teknologi di Kabinet Gotong Royong

3. Kesejahteraan Rakyat
Nama Lengkap : H.R. Agung Laksono
Lahir : Semarang, 23 Maret 1949
Jabatan tertinggi sebelumnya : Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (Indonesia) untuk masa jabatan 2004-2009

4. Sekretaris Negara
Nama Lengkap : Letjen TNI (Purn.) Sudi Silalahi
Lahir : Pematangsiantar, Sumatera Utara, 13 Juli 1949
Jabatan tertinggi sebelumnya : Sekretaris Kabinet dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2004-2009.

Menteri Departemen:
1. Departemen Dalam Negeri
Nama Lengkap : Gamawan Fauzi, SH, MM
Lahir : Solok, 9 November 1957
Jabatan tertinggi sebelumnya : Gubernur Sumatra Barat sejak 15 Agustus 2005.

2. Departemen Luar Negeri
Nama Lengkap : Dr. Raden Mohammad Marty Muliana Natalegawa, M.Phil, B.Sc
Lahir : Bandung, Jawa Barat, 22 Maret 1963
Jabatan tertinggi sebelumnya : November 2007, Marty mendapat kepercayaan penting sebagai Presiden Dewan Keamaan PBB.Duta Besar RI untuk PBB sejak 5 September 2007.

3. Departemen Pertahanan
Nama Lengkap : Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro MSc., MA., Ph.D.
Lahir : Semarang, Jawa Tengah, 16 Juni 1951
Jabatan tertinggi sebelumnya : Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada Kabinet Indonesia Bersatu periode 2004-2009)

4. Departemen Hukum dan HAM
Nama Lengkap : Patrialis Akbar
Lahir : Padang, Sumatera Barat, 31 Oktober 1958
Jabatan tertinggi sebelumnya : Anggota DPR periode 2004-2009 dari fraksi Partai Amanat Nasional

5. Departemen Keuangan
Nama Lengkap : Sri Mulyani Indrawati
Lahir : Tanjungkarang, Lampung 26 Agustus 1962
Jabatan tertinggi sebelumnya : Menteri Keuangan di Kabinet Indonesia Bersatu periode tahun 2004-2005,

6. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral
Nama Lengkap : Darwin Zahedy Saleh, S.E.,M.BA
Lahir : Riau, 29 Oktober 1960
Jabatan tertinggi sebelumnya : Anggota DPR RI Partai Demokrat dari Dapil Lampung.

7. Departemen Perindustrian
Nama Lengkap : Mohamad Suleman Hidayat
Lahir : Jombang, Jawa Timur, 2 Desember 1944
Jabatan tertinggi sebelumnya : Ketua KADIN periode 2004 - 2008 dan periode 2008 - 2012, Komisi keuangan dan perbankan DPR pada periode 2004-2009.

8. Departemen Perdagangan
Nama Lengkap : Mari Elka Pangestu
Lahir : Jakarta, 23 Oktober 1956
Jabatan tertinggi sebelumnya : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

9. Departemen Pertanian
Nama Lengkap : Ir. H. Suswono, MMA
Lahir : Tegal, Jawa Tengah, 20 April 1959
Jabatan tertinggi sebelumnya : Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI untuk periode 2004-2009 dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

10. Departemen Kehutanan
Nama Lengkap : H. Zulkifli Hasan SE. MM
Lahir : Lampung, 17 Mei 1962
Jabatan tertinggi sebelumnya : Sekretaris Jenderal PAN periode 2005 - 2010

11. Departemen Perhubungan
Nama Lengkap : Laksamana Madya (Purn.) Freddy Numberi
Lahir : Serui, Papua, 15 Oktober 1947
Jabatan tertinggi sebelumnya : Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia

12. Departemen Kelautan dan Perikanan
Nama Lengkap : Ir. H. Fadel Muhammad Al Haddar
Lahir : Ternate, Maluku, 20 Mei 1952
Jabatan tertinggi sebelumnya : Gubernur Gorontalo

13. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Nama Lengkap : Abdul Muhaimin Iskandar
Lahir : Jombang, Jawa Timur, 24 September 1966
Jabatan tertinggi sebelumnya : Wakil Ketua DPR RI periode 2004-2009, Ketum PKB

14. Departemen Pekerjaan Umum
Nama Lengkap : Ir. Djoko Kirmanto, Dipl. H.E.
Lahir : Pengging, Jawa Tengah, 5 Juli 1943.
Jabatan tertinggi sebelumnya : Menteri PU.

15. Departemen Kesehatan
Nama Lengkap : Endang Rahayu Setianingsih
Lahir :
Jabatan tertinggi sebelumnya : staf Litbang Menteri Kesehatan

16. Departemen Pendidikan Nasional
Nama Lengkap : Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh
Lahir : Surabaya, 17 Juni 1959
Jabatan tertinggi sebelumnya : Menkominfo, Rektor ITS

17. Departemen Sosial
Nama Lengkap : Dr. Salim Segaf Al Jufrie, M.A
Lahir : Solo, Jawa Tengah pada tanggal 17 Juli 1954
Jabatan tertinggi sebelumnya : Dubes untuk Kerajaan Arab Saudi dan Kerajaan Oman sejak Desember 2005

18. Departemen Agama
Nama Lengkap : Drs. Suryadharma Ali
Lahir : Jakarta pada 19 September 1956
Jabatan tertinggi sebelumnya : Menkop UKM, Ketum PPP

19. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
Nama Lengkap : Jero Wacik
Lahir :
Jabatan tertinggi sebelumnya :

20. Departemen Komunikasi dan Informasi
Nama Lengkap : Tifatul Sembiring
Lahir : Bukittinggi, Sumatra Barat, 28 September 1961
Jabatan tertinggi sebelumnya : Presiden PKS

MENTERI NEGARA

1. Menteri Riset dan Teknologi
Nama Lengkap : Suharna Surapranata Salah
Lahir : Bandung, 13 Desember 1955
Jabatan tertinggi sebelumnya : Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS.

2. Menteri Koperasi dan UKM
Nama Lengkap : Syarifudin Hasan
Lahir : Palopo, Sulawesi Selatan, 17 Juni 1949
Jabatan tertinggi sebelumnya : Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR periode 2004-2009.

3. Menteri Lingkungan Hidup
Nama Lengkap : Prof. Gusti Muhammad Hatta
Lahir :
Jabatan tertinggi sebelumnya : Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

4. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Nama Lengkap: Linda Agum Gumelar, S.IP
Lahir :
Jabatan tertinggi sebelumnya : Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani)

5. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
Nama Lengkap : Evert Ernest Mangindaan
Lahir : Solo, 5 Januari 1944
Jabatan tertinggi sebelumnya : Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) periode 1995-2000 , Pangdam VIII/Trikora

6. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal
Nama Lengkap : Ahmad Helmy Faishal Zaini
Lahir : 1 Agustus 1972 di Desa Babakan, pinggiran kota Cirebon, Jawa Barat.
Jabatan tertinggi sebelumnya :

7. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional
Nama Lengkap : Prof. Dr. Armida S Alisjahbana, S.E., M.A.
Lahir : Bandung, 16 Agustus 1960
Jabatan tertinggi sebelumnya : Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung

8. Menteri BUMN
Nama Lengkap : Dr. Ir. Mustafa Abubakar
Lahir : Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), 15 Oktober 1949
Jabatan tertinggi sebelumnya : Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog).

9. Menteri Pemuda dan Olahraga
Nama Lengkap : Dr. Andi Alfian Mallarangeng
Lahir : Makassar, Sulawesi Selatan, 14 Maret 1963
Jabatan tertinggi sebelumnya : Juru bicara kepresidenan

10. Menteri Perumahan Rakyat
Nama Lengkap : Suharso Manoarfa
Lahir : Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 31 Oktober 1954.
Jabatan tertinggi sebelumnya : Bendahara DPP PPP

PEJABAT SETINGKAT MENTERI

1. Kepala BIN
Nama Lengkap: Jenderal (Purn) Sutanto
Lahir : Comal, Pemalang, Jawa Tengah, 30 September 1950
Jabatan tertinggi sebelumnya : Kepala Badan Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional, Kapolri

2. Kepala BKPM
Nama Lengkap: Gita Wirjawan
Lahir :
Jabatan tertinggi sebelumnya : komisaris PT Pertamina

3. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan Pengedalian Pembangunan
Nama Lengkap : Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto
Lahir : Purwokerto, 14 Maret 1947
Jabatan tertinggi sebelumnya : Menteri Pertambangan (1998-1999),Kepala BP-BRR Aceh Nias

Saturday, September 19, 2009

Penghulu Tiga Lorong

Cerita Tigalorong, dikutip dari ceritarakyatnusantara.com
Peranap adalah salah satu kecamatan di Indragiri Hulu, Riau, Indonesia. Kecamatan ini juga terkenal dengan sebutan Luhak Tiga Lorong. Disebut demikian, karena pada masa kerajaan Indragiri yang berkedudukan di Pekan Tua, Raja Indragiri yang ke-16, Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah (1735-1765 M.), mengangkat tiga orang bersaudara menjadi Penghulu di tiga wilayah di Indragiri Hulu. Ketiga orang bersaudara tersebut diangkat menjadi Penghulu, karena mereka berhasil menumpas kesewenang-wenangan Datuk Dobalang yang berkuasa di negeri Sibuai Tinggi yang masih wilayah Kerajaan Indragiri. Untuk mengetahui kisah bagaimana Tiga Bersaudara tersebut mengalahkan Datuk Dobalang, ikuti kisahnya dalam Penghulu Tiga Lorong.

Pada zaman dahulu, ketika ibukota Kerajaan Indragiri berada di Pekan Tua, tersebutlah tiga orang bersaudara bernama Tiala, Sabila Jati, dan Jo Mahkota. Ketiganya pandai, gagah perkasa dan menguasai ilmu bela diri. Mereka mahir menggunakan senjata, lincah mengelak serangan lawan, gesit menyerang, dan cerdik pula berkelit. Mereka hidup rukun dan saling membantu dalam segala hal di suatu tempat bernama Batu Jangko.

Pada suatu hari, mereka pergi untuk mencari tempat yang lebih baik, yang tanahnya subur, airnya jernih, ikannya jinak, dan udaranya segar. Dari satu tempat ke tempat lain, Tiga Bersaudara ini akhirnya tiba di Koto Siambul dan memutuskan untuk menetap di tempat tersebut.

Sementara itu, di istana, Raja Indragiri sangat resah, karena Datuk Dobalang yang berkuasa di Negeri Sibuai Tinggi bertindak semena-mena. Dia suka berjudi, menyabung ayam, bermabuk-mabukan, dan memperlakukan rakyatnya dengan kejam. Raja Indragiri sudah muak dengan tingkah laku Datuk Dobalang. Sang Raja kemudian memerintahkan Duli Yang Dipertuan Besar Indragiri untuk memanggil Tiga Bersaudara yang dikabarkan berada di Koto Siambul. Sang Raja sudah mengetahui tentang kehebatan Tiga Bersaudara tersebut.

Duli Yang Dipertuan Besar Indragiri segera melaksanakan perintah Raja. Dia memudiki sungai, hingga akhirnya tiba di Koto Siambul dan bertemu dengan Tiga Bersaudara yatiu Tiala, Sabila, Jati, dan Jo Mahkota. “Wahai anak muda, Baginda Raja meminta kalian menghadap ke istana di Pekan Tua,” sapa sang Duli kepada Tiga Bersaudara. Karena permintaan Raja, mereka tidak bisa menolak. Mereka pun berangkat ke istana menghadap sang Raja.

Sesampai di hadapan Raja, mereka pun memberi hormat, “Ampun, Baginda! Apa gerangan Baginda Raja memanggil kami,” tanya ketiga bersaudara serentak. Sang Raja menjawab, “Begini saudara-saudara, kami bermaksud meminta bantuan kalian untuk menaklukkan Datuk Dobalang yang telah bertindak semena-mena di Negeri Sibuai Tinggi.” Mendengar jawaban sang Raja, mereka pun menyanggupi permintaan sang Raja.

Sebagai bekal, masing-masing mengajukan perlengkapan yang diperlukan. Tiala meminta seekor ayam sabung betina dan dua buah keris bersarung emas buatan Majapahit.
Sabila Jati meminta pedang Jawi yang hulunya bertatahkan intan dengan tulisan “Muhammad”. Jo Mahkota meminta lembing dengan sarung emas dan suasa.

Setelah Raja memenuhi semua perlengkapan yang diminta, berangkatlah ketiga bersaudara tersebut ke Sibuai Tinggi dengan sebuah perahu yang dikayuh oleh 12 orang. Setiba di Sibuai Tinggi, mereka langsung ditemui oleh Datuk Dobalang dan ditantang untuk bersabung ayam. Ketiga bersaudara pun bertanya kepada Datuk Dobalang, “Maaf, Datuk! Apa pantang larangnya? Datuk Dobalang menjawab, “Ada empat pantang larang yang harus dipatuhi dalam pertandingan, yaitu:, dilarang bersorak dan bertepuk tangan. Kedua, dilarang memekik dan menghentak tanah. Ketiga, dilarang menyingsingkan lengan baju. Keempat, dilarang memutar keris ke depan.

“Siapa yang melanggar peraturan tersebut dianggap kalah,” tegas Datuk Dobalang dengan pongahnya.

Kemudian ketiga bersaudara bertanya lagi, “Berapa taruhannya Datuk?” Datuk Dobalang menjawab, “Tanah Inuman di kiri Sungai Indragiri, yang lebar dan panjangnya sejauh mata memandang dari gelanggang Sibuai Tinggi.” Mendengar begitu luasnya tanah yang dipertaruhkan Datuk Dobalang, ketiga bersaudara diam sejenak. Mereka berpikir bagaimana cara mengimbangi besarnya taruhan yang ditetapkan oleh Datuk Dobalang. Karena kecerdikan mereka, dengan percaya diri mereka pun berujar serentak, “Kami memberikan taruhan tanah Koto Siambul di kiri Sungai Indragiri, lebar dan panjangnya sehabis mata memandang dari gelanggang Sibuai Tinggi,” Sesungguhnya mereka tidak mempertaruhkan apa-apa, sebab Koto Siambul tidak dapat dilihat dari Sibuai Tinggi. Namun, Datuk Dobalang menerima taruhan itu tanpa menyadari kebodohannya.

Setelah kedua belah pihak menetapkan taruhan, saatnya menentukan hari pelaksanaan pertandingan sabung ayam. “Hai anak muda, kapan kita laksanakan pertandingan itu,” tanya Datuk Dobalang. “Terserah tuanku,” jawab ketiga bersaudara serentak. “Kalau begitu, kita laksanakan tiga hari lagi, sebab kami harus mengumpulkan para penduduk di gelanggang,” ujar Datuk Dobalang.

Saat yang dinanti-nanti pun tiba. Pada hari ketiga, pertandingan Sabung ayam itu pun segera dilaksanakan. Semua penduduk berkumpul di gelanggang Sibuai Tinggi untuk menyaksikan pertarungan itu. Sesaat sebelum pertandingan dimulai, suasana gelanggang menjadi hening. Datuk Dubalang melepas ayam jagonya, sedangkan tiga bersaudara melepas ayam betinanya. Beradulah kedua ayam tersebut dengan seru. Baru beberapa saat pertandingan berlangsung, tiba-tiba ayam betina Tiga Bersaudara terkena kelepau (serangan) hingga sayapnya patah. Datuk Dobalang sangat gembira hingga bersorak, bahkan memekik dan menghentak tanah. Tanpa ia sadari, semua aturan yang dibuatnya, dilanggarnya sendiri.

Berkali-kali Tiga Bersaudara mengingatkan Datuk Dobalang bahwa dia telah melanggar peraturan, dan siapa pun yang melanggar peraturan harus dianggap kalah. Namun, Datuk Dobalang tidak peduli. Kesabaran itu ada batasnya. Tiga bersaudara tidak tahan lagi melihat tingkah si Datuk angkuh itu, sehingga kesabaran mereka pun habis. Sambil bersiap mengantisipasi serangan Dato Dobalang, mereka melantunkan sebuah gurindam:Penat mau bergalah coba-coba mengalasPenat hendak mengalah dicoba membalas”

Ternyata benar. Baru saja gurindam itu lepas dari mulut Tiga Bersaudara, tiba-tiba Datu Dobalang menyerang mereka dengan kerisnya. Tiga Bersaudara sudah siap, sehingga dengan mudah mereka mengelak dan balas menyerang Datuk Dobalang. Serang-menyerang berlangsung dengan seru. Pekikan dan bentakan bersahut-sahutan. Berkali-kali Datuk Dobalang mengayunkan kerisnya ke arah Tiga Bersaudara, berkali-kali pula Datuk Dobalang memekik geram karena serangannya dapat dielakkan oleh Tiga Bersaudara.

Suasana di gelanggan semakin gaduh. Penduduk yang ada digelanggan itu hanya terperangah menyaksikan sengitnya perkelahian antara Datuk Dobalang dengan Tiga Bersaudara. Mereka menyaksikan sendiri Tiga Bersaudara berkali-kali berkelit mengelakkan tikaman Datuk Dobalang. Melihat serangannya selalu dipatahkan oleh Tiga Bersaudara, dengan menggeram macam singa lapar, Datuk Dobalang menyerang Tiga Bersaudara. Karena ia dalam keadaan emosi, ia tidak dapat mengendalikan serangannya dengan baik, sehingga tampak serangannya membabi buta. Tentu saja kelengahan itu tidak disia-siakan oleh Tiga Bersaudara. Dengan secepat kilat, Ketiga Bersaudara tersebut mengeluarkan senjata masing-masing yang mereka minta dari Raja Indragiri. Akhirnya, pusaka-pusaka sakti tersebut membuat Datu Dobalang tewas jatuh tersungkur ke tanah.

Penduduk yang hadir di gelanggang itu segera mengerumuni mayat yang tergeletak itu. Mereka ingin memastikan apakah Datuk Dobalang benar-benar sudah mati. Dari kerumanan itu, sesekali terdengar decak kagum atau geleng kepala takjub akan keberhasilan Tiga Bersaudara mengalahkan orang yang paling ditakuti di Negeri Sibuai Tinggi. Penduduk Sibuai Tinggi bergembira ria, sebab mereka sudah bisa mencari nafkah sehari-hari tanpa dihantui rasa takut.

Selanjutnya, Tiga Bersaudara memasukkan jasad Datuk Dobalang ke dalam peti dan segera membawanya ke hadapan Raja Indragiri. Sang Raja sangat gembira melihat keberhasilan Tiga Bersaudara mengalahkan Datuk Dobalang. Atas jasa-jasanya itu, sang Raja meminta kepada Tiga Bersaudara menyebutkan hadiah yang mereka inginkan. “Wahai pahlawanku, hadiah apa yang kalian inginkan?” seru sang Raja menawarkan. Tiga bersaudara tidak mengharapkan uang, emas, ataupun harta benda yang lain. “Kami hanya meminta sesuatu yang tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk karena hujan seumur hidup,” kata Tiala mewakili saudara-saudaranya.

Sang Raja tidak mengerti apa maksud perkataan Tiala itu. Sang Raja pun mengumpulkan para menteri dan orang-orang tua yang bijak untuk mengadakan rapat tentang permintaan Tiga Bersaudara tersebut. Selama delapan hari mereka berpikir keras untuk mencari tahu apa yang dimaksud oleh Tiga Bersaudara tersebut. Atas petunjuk Tuhan, akhirnya mereka menyimpulkan bahwa yang diinginkan Tiga Bersaudara adalah pangkat.

Ketiga Bersaudara tersebut kemudian diangkat menjadi Penghulu Tiga Lorong. Tiala diangkat menjadi Lelo Diraja, Penghulu Baturijal Hilir lawan Sungai Indragiri dengan bendera berwarna putih. Sabila Jati diangkat menjadi Dana Lelo Penghulu Pematang lawan Batanghari, dengan bendera berwarna hitam. Adapun Jo Mahkota diangkat menjadi Penghulu Baturijal Hulu dengan anugerah dua bendera, yaitu bendera merah dari Raja Indragiri dan bendera hitam dari Raja Kuantan.

Atas anugerah pangkat yang mereka terima, Penghulu Tiga Lorong bersumpah, Tiada boleh akal buruk, Budi merangkak,Menggunting dalam lipatan,Memakan darah di dalam,Makan sumpah 1000 siang 1000 malam.Ke atas dak bapucuk,Ke bawah dak baurat,Dikutuk kitab Al-Qur‘an 30 juz.

Tiga Bersaudara selanjutnya menerima hadiah tanah Tiga Lorong yang tanahnya subur, udaranya sejuk, airnya jernih, rumputnya segar, serta ikannya jinak. Mereka membangun wilayah Tiga Lorong sehingga hasil pertaniannya berlimpah, jalan-jalan dan bangunannya tertata rapi, perniagaannya maju, serta keseniannya berkembang pesat. Rakyat yang terdiri dari berbagai suku hidup rukun, saling menghargai, serta menjalankan syariat agama dengan taat.

Sejak peristiwa di atas, ketiga orang bersaudara tersebut berusaha memajukan rakyat Tiga Lorong (sekarang dikenal Kecamatan Peranap). Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Isjoni Ishak dan Mira Dewi Minrasih, ada beberapa usaha yang telah mereka lakukan dalam memajukan masyarakat Baturijal khususnya, dan Tiga Lorong umumnya, antara lain: Menyatukan rakyat yang bermacam-macam suku bangsa melalui pendekatan social Meningkatkan perekonomian rakyat melalui bidang pertanian, perkebunan dan perikanan. Menanamkan sifat solidaritas kepada masyarakat Tiga Lorong. Dalam hal ini, mereka tidak mau ikut campur dalam pelaksanaan adat-istiadat masyarakat yang berlainan tersebut. Menanamkan nilai-nilai ajaran agama Islam yang berpedoman kepada Alquran bagi masyarakat Tiga Lorong. Usaha-usaha yang telah mereka lakukan tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat desa Tiga Lorong. Hal ini terbukti dengan meningkatnya ekonomi masyarakat. Selain itu, masyarakat Tiga Lorong sangat taat terhadap ajaran-ajaran Islam yang sesuai dengan Alquran dan Sunnah Rasulullah.

Cerita Penghulu Tiga Lorong ini kiranya dapat dijadikan sebagai suri tauladan untuk menciptakan negara yang damai, sejahtera dan makmur. Penguasa yang zalim terhadap rakyat harus dilenyapkan dari muka bumi.

Sunday, August 30, 2009

Putri Pinang Masak

Suku Talang Mamak/“Suku Tuha tersebar di empat kecamatan yaitu Batang Gansal, Cenaku, Kelayang dan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu dan di Dusun Semarantihan, Desa Suo-Suo, Kecamatan Sumai, Kabupaten Tebo, Jambi. Salah satu versi asal usul suku Talang Mamak yang sangat terkenal diceritakan dalam cerita rakyat tentang Putri Pinang Masak. Konon, di Indragiri hidup tujuh pasang putra-putri yang dilahirkan secara kembar. Ketujuh putra tersebut menjadi pemuda yang gagah berani, sedangkan ketujuh putri tumbuh menjadi gadis cantik jelita. Dari ketujuh putri tersebut, salah seorang di antaranya yang termolek, Putri Pisang Masak namanya. Berikut kisahnya menurut ceritarakyatnusantara.com.

Suatu hari, Putri Pisang Masak tiba-tiba hilang. Ketujuh saudara laki-lakinya sibuk mencari ke sana ke mari, namun tidak juga ditemukan. Hilang ke manakah Putri Pisang Masak? Siapa yang telah menculiknya? Berhasilkah ketujuh saudara laki-lakinya tersebut menemukannya? Ingin tahu jawabannya?
Alkisah, pada zaman dahulu, tersebutlah sebuah kisah di Negeri Simbul, Siberida, Indragiri, Riau. Di negeri itu hidup tujuh pasang putra-putri yang dilahirkan secara kembar siam. Marudum Sakti lahir kembar dengan Putri Pinang Masak (sulung), Buyung Selamat dengan Putri Mayang Mengurai, Sampurago dengan Subang Bagelan, Tonggak de Tonang dengan Putri Pandan Bajelo, Sapu Jagat dengan Putri Loyang Bunga Emas, Roger dan Putri Setanggi, dan yang bungsu Tuntun dengan Putri Bungsu.

Ketujuh putra tersebut tumbuh menjadi pemuda yang gagah berani, sedangkan ketujuh kembarannya tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Dari ketujuh putra tersebut, Roger adalah yang paling gagah dan pemberani. Sementara, dari ketujuh putri, Putri Pinang Masak adalah yang termolek.

Pada suatu hari, seluruh warga heboh, karena tiba-tiba Putri Pinang Masak hilang. Ketujuh saudara laki-lakinya sibuk mencarinya ke sana kemari, namun tak juga mereka temukan. Roger yang gagah dan pemberani kemudian pergi menyusuri berbagai tempat hingga bertemu dengan Datuk Motah. Dari Datuk itulah ia memperoleh kabar bahwa kakaknya, Putri Pinang Masak, dibawa lari dan dikawinkan dengan Raja Dewa Sikaraba Daik oleh Paduka Raja Telni Telanai dari Jambi.

Setelah mendengar kabar keberadaan kakaknya, Roger segera melaporkan kabar itu kepada saudara-saudaranya. Mereka kemudian berkumpul untuk mengadakan musyawarah. “Wahai, Adikku Roger! Kita semua sudah tahu, bahwa di antara kita bersaudara engkaulah yang paling gagah dan pemberani. Maka sepantasnyalah engkau yang harus menjemput Putri Pisang Masak ke Jambi,” kata Marudum Sakti kepada adiknya. “Benar, Abang! Kami setuju dengan pendapat Abang Marudum Sakti,” tambah Tuntun, adik Bungsunya. “Ya, kami juga sepakat,” sahut saudara-saudaranya yang lain serentak. Akhirnya, diputuskan Roger diutus ke Jambi untuk membawa pulang Putri Pinang Masak dengan damai.

Keesokan harinya, Roger berangkat ke Jambi seorang diri. Negeri Jambi dijaga ketat, karena terjadi pertentangan antara Raja Telni Telanai dengan Belanda. Setelah melakukan perundingan dengan para pengawal istana, Roger pun diizinkan untuk menemui Raja Telni Telanai.

“Hai, Orang Muda! Kamu siapa dan dari mana asalmu?” tanya Raja Telni.
“Ampun, Baginda! Hamba Roger. Hamba berasal dari Indragiri,” jawab Roger, tanpa memberitahukan sang Raja kalau dirinya adalah adik kandung Putri Pinang Masak.

“Apa gerangan yang membawamu kemari, Roger?” Raja Telni kembali bertanya.

“Ampun, Baginda! Jika Baginda berkenan, izinkahlah hamba ikut membantu mengusir Belanda dari negeri ini,” Roger memohon kepada Raja Telni.

Raja Telni menyambutnya dengan gembira, seraya berkata, “Baiklah, Roger! Kamu boleh tinggal di istana ini.”

Sejak itulah, Roger tinggal di istana Kerajaan Jambi. Putri Pinang Masak telah mengetahui keberadaan adiknya itu, namun ia tidak pernah bercerita kepada siapa pun tentang hubungan mereka.

Untuk menguji keperkasaan Roger, berkali-kali Raja Telni mengutusnya untuk menumpas para perampok yang berkeliaran di perairan Jambi. Oleh karena kesaktiannya, Roger selalu berhasil, sehingga ia diangkat menjadi dubalang negeri. Tak lama kemudian, Roger pun diperkenankan untuk ikut berperang melawan Belanda.

Pada malam sebelum berangkat ke medan perang, diam-diam Putri Pinang Masak menemui adiknya dan memberinya selendang cindai sebagai pusaka. Berbekal cindai dan kesaktiannya, Roger pun berhasil memukul mundur pasukan Belanda. Segenap raja Jambi menyambutnya sebagai pahlawan. Oleh karena jasa-jasanya terhadap kerajaan, Raja Telni Telanai menganugerahkan gelar “Datuk” dan mengukuhkan Roger sebagai “Dubalang Utama”. Maka lengkaplah gelar Roger sebagai ”Datuk Dubalang Utama Roger”.

Waktu terus berjalan. Raja Telni Telanai mulai sakit-sakitan. Akhirnya, ia pun menyerahkan tampuk kekuasaannya kepada putranya, Raja Dewa Sikaraba Daik. Namun sejak pemerintahan dipegang oleh Raja Dewa Sikaraba Daik, kerajaan menjadi lemah. Banyak pengkhianat muncul di lingkungan istana. Kesempantan itu kemudian dimanfaatkan oleh Belanda untuk menekan raja muda itu.

Setelah terus dibujuk dan didesak oleh para hulubalang yang menjadi mata-mata Belanda, akhirnya Raja Dewa Sikaraba Daik yang lemah itu mau menandatangani perjanjian perdamaian dengan Belanda. Datuk Roger pun ditangkap. Dengan tangan diikat, Datuk Roger dibawa ke kapal untuk ditenggelamkan di tengah-tengah samudera.

Namun, sewaktu akan menaiki kapal, tiba-tiba terjadi peristiwa gaib. Dengan izin Allah, Roger tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Lama Roger tidak muncul, sehingga orang-orang Belanda menganggapnya telah mati.

Sepeninggal Datuk Roger, Belanda kemudian menyerang Kerajaan Jambi. Banyak pasukan Raja Dewa Sikaraba Daik yang gugur. Mereka pun semakin terdesak oleh Belanda. Pada saat yang kritis itu, tiba-tiba Datuk Roger muncul. Kemudian ia memohon izin kepada Raja Sikaraba Daik untuk melawan Belanda. Dengan keperkasaannya, Roger dan pasukannya berhasil memukul mundur pasukan Belanda. Para pengkhianat kerajaan kemudian ditangkap dan dihukum mati. Kerajaan Jambi kembali aman dan damai. Raja Dewa Sikaraba Daik pun memimpin rakyat Jambi dengan arif dan bijaksana.

Melihat kondisi sudah kembali aman, Datuk Roger pun bermaksud kembali ke Indragiri. Ia pun segera menghadap Raja Dewa Sikaraba Daik, “Ampun, Baginda! Kini saatnya hamba harus pulang. Jika Baginda memerlukan Hamba, panggillah hamba di Desa Siambul, di Hulu Batang Gangsal, Siberida, Indragiri,” kata Datuk Roger.

Mengetahui adiknya akan kembali ke Indragiri, Putri Pinang Masak segera bersimpuh di hadapan suaminya, Raja Dewa Sikaraba Daik, ”Maafkan Dinda, Kanda! Sebenarnya Dinda adalah kakak kandung Datuk Roger. Izinkanlah Dinda pulang ke Indragiri bersamanya. Dinda akan segera kembali ke istana ini untuk melahirkan putra kita.” Raja Dewa Sikaraba Daik terkejut mendengar perkataan Putri Pinang Masak. “Benarkah itu, Datuk Roger?” tanya sang Raja penasaran. “Benar, Baginda Raja!” jawab Roger singkat.

Akhirnya, Raja Dewa Sikaraba Daik mengetahui hubungan persaudaran mereka yang selama ini dirahasiakan. Namun, mengingat Datuk Roger telah berjasa kepada kerajaan Jambi, sang Raja pun memakluminya. Dengan berat hati, Raja Dewa Sikaraba Daik mengizinkan Putri Pinang Masak pulang ke Indragiri bersama adiknya.

Keesokan harinya, sebelum kakak beradik itu berangkat, Raja Dewa Sikaraba Daik menyerahkan Plakat Kerajaan yang berisi maklumat bahwa hutan di daerah Jambi diserahkan kepada anak cucunya melalui keturunan dari Putri Pinang Masak.

Setelah menempuh perjalanan jauh, sampailah Roger dan Putri Pinang Masak di Indragiri. Mereka disambut oleh masyarakat Siambul dengan suka-cita dan haru. Untuk meluapkan perasaan gembira tersebut, masyarakat desa mengadakan upacara gawai atau selamatan. Dalam suasana gembira tersebut, Datuk Marudum Sakti berkata, “Keluarga kita sudah utuh kembali. Peristiwa ini hendaknya kita jadikan pelajaran berharga agar selalu membela dan melindungi saudara-saudara kita.”

Sesuai dengan Plakat Kerajaan yang diberikan oleh Raja Dewa Sikaraba Daik, selanjutnya anak keturunan Putri Pinang Masak berkembang menjadi Suku Kubu dan Talang Mamak yang menguasai hutan Jambi. Hingga kini, kedua suku tersebut masih dapat ditemukan di daerah-daerah pedalaman di Pulau Jambi.

Asal usul nama Kelayang

Berikut adalah kisah asal usul nama Kelayang, salah satu kecamatan yang ada di Indragiri Hulu, yang dikutip dari ceritarakyatnusantara.com, situs yang dikelola oleh Mahyuddin al Mudra, putra Indragiri Hilir pengelola Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta.

Kelayang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Indonesia. Dulu, Kelayang adalah nama sebuah desa yang dikenal dengan Keloyang, sedangkan Keloyang berasal dari Kolam Loyang. Konon, pada zaman dahulu kala, Kolam Loyang ini merupakan tempat sekumpulan bidadari dari kayangan yang bisa terbang melayang. Setiap malam bulan purnama, para bidadari tersebut datang ke Kolam Loyang itu untuk mandi. Suatu ketika, seorang Datuk dari Kerajaan Indragiri bernama Datuk Sakti menghiliri Sungai Keruh (sekarang Sungai Indragiri) untuk melihat keadaan rakyatnya. Karena kelelahan, ia pun beristirahat di bawah sebuah pohon di tepi Kolam Loyang. Tiba-tiba, sekumpulan bidadari yang hendak mandi di Kolam Loyang turun dari kayangan. Datuk Sakti terpana melihat kecantikan para bidadari itu. Ia kemudian berpikir untuk memperistri salah satu di antara bidadari itu. Dengan berbagai usaha, Datuk Sakti berhasil menikahi bidadari itu. Namun, akhirnya mereka berpisah. Apa saja usaha-usaha Datuk Sakti tersebut? Bagaimana Datuk Sakti berpisah dengan bidadari itu? Temukan jawabannya dalam cerita Mahligai Keloyang.

Pada suatu masa, Kerajaan Indragiri mengalami zaman keemasannya. Ibukota kerajaan yang menjadi pusat pemerintahan berada di Japura. Semula Japura bernama Rajapura. Rakyat Indragiri hidup dengan sejahtera, tenteram, dan damai. Para datuk memimpin dengan baik dan menjadi teladan bagi seluruh penduduk negeri.

Suatu hari, salah seorang datuk yang bernama Datuk Sakti, pergi menghiliri Sungai Indragiri. Saat itu Sungai Indragiri masih bernama Sungai Keruh. Datuk Sakti ingin melihat kehidupan rakyatnya yang hidup di sepanjang sungai tersebut.

Menjelang sore, Datuk Sakti menaiki sebuah tebing untuk mencari tempat beristirahat. Datuk Sakti kemudian memasuki hutan di dekat sungai. Sampailah dia di tepi sebuah kolam. Air kolam itu sangat jernih, tenang, dan cemerlang bak loyang. Ketika Datuk Sakti sedang duduk beristirahat di bawah sebuah pohon besar, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sekumpulan wanita cantik yang terbang turun dari angkasa. Datuk Sakti terperanjat bukan alang kepalang. “Amboi, elok sangat gadis-gadis itu. Apakah saya ini mimpi?” gumam Datuk Sakti sambil mengusap-usap matanya. “Ah, ini bukan mimpi,” ia gumam lagi untuk meyakinkan dirinya kalau yang dilihatnya itu benar-benar nyata. Ternyata benar, apa yang dilihatnya sungguhlah nyata.

Dari balik pohon Datuk Sakti menyaksikan para bidadari itu melepas pakaian mereka yang indah, dan meletakkannya di pinggir kolam. “Aduhai, sungguh mempesona tubuh para bidadari itu,” ucap Datuk Sakti kagum.

Para bidadari itu kemudian mandi dengan riang gembira, sambil bercanda dan bernyanyi. Suara mereka merdu bak buluh perindu, menghanyutkan hati bagi siapa saja yang mendengar. Air kolam berkecipak berkilauan, memantulkan sinar matahari sore yang berwarna kuning keemasan.

Menjelang senja tiba, usailah para bidadari mandi. Mereka mengenakan pakaiannya kembali, dan secepat kilat terbang ke angkasa. Datuk Sakti yang terpukau segera tersadar. “Alangkah bahagianya kalau aku memiliki istri salah satu bidadari itu,” pikir Datuk Sakti.

Datuk Sakti termenung, memikirkan cara menangkap salah satu bidadari tersebut. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Senja itu adalah malam bulan purnama penuh, tentulah pada purnama berikutnya para bidadari akan datang lagi. Sepurnama itu Datuk Sakti terus berdoa. “Doa akan merubah retak tangan yang telah digariskan Tuhan,” pikir Datuk Sakti. Dia puasa tujuh hari, mandi limau tujuh pagi tujuh petang, untuk membersihkan dirinya lahir batin.

Pada purnama berikutnya, Datuk Sakti bergegas pergi kembali ke Kolam Loyang tempat para bidadari mandi. Dia bersembunyi di balik semak yang rapat. Dia sangat berhati-hati sekali jangan sampai ketahuan oleh bidadari tersebut. “Wah, aku harus berhati-hati. Jangan sampai ketahuan oleh mereka. Kalau mereka tahu, hancurlah harapanku selama ini,” katanya bertekad dalam hati. Benarlah! Menjelang sore, langit kemilau oleh cahaya terang yang mengiringi kedatangan para bidadari. Sebagaimana biasa, mereka menanggalkan pakaian dan mencebur ke dalam kolam, bersuka ria. Tengah para bidadari berkecipak-kecipung di air, Datuk Sakti diam-diam mengambil salah satu selendang yang ada di dekatnya.

Setelah senja, para bidadari tersebut mengenakan kembali pakaiannya. Tetapi, ada satu bidadari yang tidak menemukan selendangnya. Bidadari-bidadari lain tidak dapat menolongnya. Mereka harus kembali sebelum malam turun. Bidadari yang kehilangan selendang itu terpaksa mereka tinggalkan. Bidadari itu pun menangis tersedu-sedu dengan sedihnya. Tangisannya menusuk kalbu siapa saja yang mendengarnya.

Datuk Sakti keluar dari persembunyiannya, dan mendekati bidadari malang tersebut. “Wahai Bidadari cantik, ada apa gerangan kamu menangis?”sapa Datuk Sakti. “Tuan, apabila Tuan mengetahui selendang saya, hamba mohon kembalikanlah selendang itu,” pinta Bidadari itu.

Datuk Sakti mengeluarkan selendang itu dari balik punggungnya, lalu berkata, “Aku akan mengembalikan selendang kamu tetapi dengan syarat, kamu bersedia menjadi istriku.” Dengan senyum yang tulus, sang Bidadari menjawab, “Ya, saya berjanji bersedia menikah dengan Tuan, asalkan Tuan sanggup berjanji pula untuk tidak menceritakan asal-asulku dan peristiwa ini kepada orang lain. Jika Tuan melanggar janji, berarti kita akan bercerai.” Syarat yang diajukan sang Bidadari sangatlah ringan bagi Datuk Sakti. “Baiklah, saya bersedia mengingat janji itu,” jawab Datuk Sakti. Lalu, Datuk Sakti membawa Bidadari itu ke rumahnya.

Masa berlalu. Mereka menikah dan hidup berbahagia. Tiada berapa lama, bidadari itu melahirkan anak laki-laki, disusul anak perempuan. Anak-anak itu tumbuh sehat, cerdas, dan rupawan. Datuk Sakti melatih anak laki-lakinya hingga tangkas bersilat, berburu, berniaga, dan berlayar. Sang Bidadari mengajari anak perempuannya menenun, memasak, merawat rumah, dan bertanam padi.

Keluarga Datuk Sakti terlihat sempurna. Semua orang kagum dan memuji kecantikan paras, keelokan perilaku, serta kepandaian sang Bidadari. Datuk Sakti sangat bangga akan istrinya, hingga lupa dengan janjinya pada sang Bidadari. Tanpa sadar, dia bercerita bahwa istrinya adalah bidadari dari kahyangan. Dia menangkapnya saat mandi di Kolam Loyang.

Setelah mendengar cerita Datuk Sakti, pada setiap malam purnama orang-orang berduyun-duyun ke Kolam Loyang untuk berburu bidadari. Mereka bersaing, berebut, bahkan saling bertikai untuk mendapatkan semak lebat yang terdekat dengan kolam. Tetapi mereka pulang dengan tangan hampa, karena semenjak ada salah satu bidadari kehilangan selendang, para bidadari yang lain tidak berani lagi mandi di Kolam Loyang.

Mengetahui Datuk Sakti telah melanggar janjinya, sang Bidadari sangat sedih dan marah. Sambil menangis dia mengambil selendangnya. “Karena rahasia kita telah Kakanda bongkar, aku akan kembali ke langit. Tolong pelihara putra-putri kita, agar menjadi orang yang berguna. Selamat tinggal,” sang Bidadari pamit, lalu terbang ke angkasa. Sejak saat itu, sang Bidadari tidak pernah lagi kembali ke Kolam Loyang mand-mandi.

Datuk Sakti sangat sedih dan menyesal, tetapi nasi telah menjadi bubur. Akhirnya dia menerima takdirnya dan membesarkan anak-anaknya dengan baik. Kedua anak itu tumbuh menjadi jejaka dan gadis yang rupawan, pandai, dan baik budi. Semua orang menyukai mereka. Pada setiap malam purnama, Datuk Sakti dan putra-putrinya pergi ke Kolam Loyang untuk mengenang ibundanya. Mereka juga berdoa agar sang Bidadari bahagia di kahyangan.

Sejak peristiwa tersebut, desa tempat mereka hidup itu kemudian mereka beri nama Keloyang, yaitu diambil dari kata Kolam Loyang. Saat ini, desa tersebut telah berkembang dan dikenal dengan nama Kelayang, salah satu nama kecamatan di Kabupaten Indragiri Hulu, Propinsi Riau, Indonesia. Kelayang dibentuk menjadi kecamatan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 tahun 1995. Di samping itu, juga terdapat sebuah desa yang bernama Kelayang di wilayah Kecamatan Kelayang.
Hingga kini, pemerintah daerah Indragiri Hulu telah mengeluarkan kebijakan sebagai upaya untuk menghargai dan melestarikan Kolam Loyang di Kecamatan Kelayang, karena Kolam Loyang ini merupakan icon kebudayaan masyarakat di daerah itu.

Tuesday, August 04, 2009

Penantang Elyas Pical itu sudah tiada

Urip Rianto dengan bersepeda ontel datang ke Jakarta, 1985. Perjalanan 4 hari 4 malam tersebut hanya berbekalkan satu buah gitar kotak karyanya sendiri. Dan itu hanya dilakukannya demi tujuan menantang Elyas Pical, sang juara dunia tinju.


in memoriam Mbah Surip
Pria dari Mojokerto tersebut terlebih dahulu harus bertanding panco dengan teman-teman barunya di Bulungan. Hampir semuanya dikalahkannya. Kecuali satu orang, Anto. 7 kali kalah melawan Anto, Urip meminta istirahat. Esoknya dia kalah lagi, Urip pun terpaksa menahan hasrat hatinya untuk bertanding dengan Pical. Urip bergabung menjadi seniman jalanan.

Tahun 1986, Urip mendapat inspirasi mengarang lagu "Tak Gendong" saat berkunjung ke pertambangan di US. Tahun 1990an Urip mencoba merekamnya. Namun Musica Studio menolak.

Tahun 2008, Adit, mantan personel Musica yang sekarang berada di Falcon mencari Urip. Tak Gendong pun kemudian dirilis menjadi RBT, yang langsung meledak.

Sayang, sebelum perhitungan hasil royalti RBT tenar tersebut, Urip yang dikenal sebagai Mbah Surip, keburu meninggal dunia 3 Agustus 2009.

Thursday, July 30, 2009

Asal usul Suku Kampung Tonga Peranap Indragiri Hulu

Menurut informasi yang diperoleh Tommy Muchsin Babab, Peranap, Indragiri Hulu, Suku Kampung Tongah, yang ada di Kenegerian Peranap, Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu terdiri dari :
1. Suku Kampung Tongah dari Siak.
2. Suku Kampung Tongah dari Tanah Datar Pagaruyung.
3. Suku Kampung Tongah dari Batanghari Jambi.


Suku Kampung Tongah yang dari Siak. Penerusnya saat ini adalah: Bpk. Bahtiar Ismail, Bpk. Sudirman, Bpk. Said. Nenek moyang mereka adalah yang mula- mula menjadi Imam dan pegawai syara’ di sini. Sehingga terkenal dengan sebutan Imam siak atau Orang Siak.

Suku Kampung Tongah yang dari Tanah Datar Pagaruyung, saat ini diwarisi oleh Bpk. Amir Husin, Bpk. Sudirman Kades, Bpk. Effendi (imbut). Menurut keterangan nara sumber saya, mereka inilah yang mula-mula mendiami kepenghuluan Peranap ini. Bapak dari nenek moyang mereka yang awal datang dari luhak Tanah Datar Pagaruyung dan oleh orang kampungnya diberi Gelar Datuk INDOGIRI (Indragiri) karena beliau pindah dari kerajaan Pagaruyung dan menetap di Kerajaan Indragiri.
Ini sesuai pula dengan sejarah Kerajaan Indragiri yang menyebutkan pula tentang adanya sekelompok orang dibawah pimpinan Datuk parpatih nan sabatang dan Datuk Katumanggungan yang menghiliri sungai kuantan dari Pagaruyung ke Indragiri dan dihadiahi Tanah peladangan oleh Raja Indragiri di daerah Petalangan sehingga mereka dikenal pula dengan sebutan Talang Mamak.

Suku Kampung Tongah dari Batang Hari Jambi diantaranya H. Husin Abbas, Bpk. Nawir, Bpk. Kulis, Bangcik Ijul, Unas Guru, H. Apis. Menurut keterangan pula nenek moyang mereka sengaja dijemput ke Batang hari guna membunuh Ghajo Dubalang yang meresahkan penduduk lainnya.

Datuk Dubalang berperangai kasar dan egois, sehingga ada pameo “ Bak Ghajo Dubalang : Utang dak omo mambayigh, piutang nak di tghimo”. Sebagai penghargaan kepada mereka di nobatkan gelar adat yang tak lapuk dek hujan dan tak lekang dek paneh yakni :

1. Yang tertua di beri gelar Donang Lelo dan mendapat tanah hunian di daerah Pematang.
2. Yang nomor dua diberi gelar Lelo Di Ghajo dan mendapat tanah hunian di daerah Selunak serta Baturijal Hilir sekarang.
3. Yang nomor tiga mendapat gelar Ghajo mangkuto serta tanah hunian di Baturijal Hulu.

Dimana posisi Solo Anso? Ternyata Datuk Solo Anso lah yang menyuruh menjemput mereka ke Batang Hari karena ketiga orang tersebut masih saudara Datuk Solo Anso dan Datuk Solo Anso sudah tahu akan kehebatan dan Kemangkusan ilmu tiga saudaranya tersebut. Untuk itu beliau mengirim utusan untuk menjemput ketiga datuk tersebut guna mengatasi gejolak di dalam kenegerian.

Sunday, July 26, 2009

Perbedaan hasil caleg terpilih Pileg 2009 versi KPU, MA dan MK

Pemilihan Umum 2009 menjadi sejarah baru dalam demokrasi Indonesia. Sistem proporsional yang ditetapkan UU Pemilu, dirombak MK menjadi sistem suara terbanyak. Meski demikian, bagaimana alokasi kursi belum jelas. Akibatnya terjadi gugatan-gugatan. Sampai saat ini telah ada tiga versi perolehan suara, yakni versi MA, MK dan KPU sendiri.


Versi KPU:
Hanura 18
Gerindra 26
PKS 57
PAN 43
PKB 27
Golkar 107
PPP 37
PDIP 95
PD 150

Versi MK:
Hanura 16
Gerindra 26
PKS 57
PAN 46
PKB 28
Golkar 106
PPP 37
PDIP 95
PD 149

Versi MA:
Hanura 6
Gerindra 10
PKS 50
PAN 28
PKB 29
Golkar 125
PPP 21
PDIP 111
PD 180

Sejarah suku Koto Baru di Peranap, Indragiri Hulu

Tidak ada yang tahu persis kapan orang – orang dari berbagai latar belakang sosial dan kehidupan ini mulai mendiami daerah Pauhranap maupun Peranap seperti yang ada sekarang ini. Tetapi yang pasti mereka tiba di daerah ini tidak serempak atau sekaligus. Beruntung kita masih memiliki sedikit harapan tentang sejarah persukuan Koto Baru yang masih diingat oleh beberapa orang tua kita yang masih hidup sampai saat ini.

Asal muasal suku Koto Baru, Peranap, Indragiri Hulu
Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut yang diperoleh dari para orang tua mereka, ternyata Suku Koto Baru terdiri dari beberapa suku kecil atau yang biasa disebut Poghut ( Perut ) yakni istilah untuk menyederhanakan penyebutan untuk asal garis keturunan dari hak ibu, nenek, uyang ( moyang ), buyut dan seterusnya.

Setidaknya ada 6 ( enam ) Poghut yang saat ini menjadi pewaris atau bagian dari Suku Koto Baru yakni :
a. Koto Baru yang datang dari Batang Hari. Diantara keturunannya adalah : Nurul Kamal dan Saleh Abbas.
b. Koto Baru yang datang dari Kampar. Diantara keturunannya adalah : Umar Syaf, Alm. Kadir Atan.
c. Koto Baru yang datang dari Taluk Kuantan. Diantara keturunannya saat ini adalah : H. Syamsuri samad, H. Asmar MZ, Anwar Abdullah.
d. Koto Baru Kampung Bontuk yang berasal dari Benai. Diantara keturunannya adalah : Asmawi Hamid dan H. Lahmudin.
e. Koto Baru Kampung Ghajo yang berasal dari Muara tebo. Diantara keturunannya adalah : H. Abdullah Ma’ruf, Kamaruddin, Alm. Kamur.
f. Koto Baru Datuk Mantagho Asal nya belum kami ketahui. Diantara Keturunannya adalah : Martius Daud, Amir, Anas, Sudir.

Sumber Tommy Muchsin "Babab" al-Basyarahil.

Persukuan di Peranap, Indragiri Hulu

Tommy Muchsin Babab menuliskan, ada tiga suku dalam kepenghuluan adat Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, yakni suku Koto Tuo, Kampung Tonga dan Koto Baru.

Makna Suku

Persukuan, memiliki makna kumpulan beberapa suku kecil yang tergabung di dalam sebuah suku yang lebih besar.

Suku-suku yang ada di Peranap, Indragiri Hulu
Ada 3 (tiga) Suku besar di bawah Kepenghuluan Datuk Solo Anso di kenegerian Peranap ini., yakni :
- Suku Koto Tuo atau Suku Penghulu dengan Kepala Suku bergelar Monti Koto Tuo yang saat ini diamanahkan kepada bapak Zaudi.
- Suku Kampung Tongah dengan Kepala Suku bergelar Monti Golagh/ gelar yang saat ini dijabat oleh Bapak Amir Husin.
- Suku Koto Baru dengan Kepala Suku bergelar Datuk Dupati yang saat tulisan ini dibuat masih diemban oleh Bapak Nurul Kamal.

Saturday, July 25, 2009

in Memoriam Omar Dhani

24 Juli 2009, Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Pimpinan Angkatan Bersenjata termuda yang pernah dilantik, Marsekal Madya Omar Dhani, mantan KSAU berumur 38 tahun, menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) Halim Perdana Kusuma, Jakarta.


Karir
1942-1944, anak kelima Aisten Wedana Gondong Winangun Klaten, KRT Reksonegoro, mantan Bupati Boyolali ini bekerja sebagai Sinder Perkebunan Kebon Arum Klaten.

1946, penyiar RRI/Voice of Indonesia.

1946-1947, penyiar bahasa Inggris di Kementerian Penerangan dan RRI Jakarta.

November 1950 masuk AURI.

1952 bertugas sebagai copilot pesawat Dakota di Cililitan, Jakarta.

1956 tugas belajar di Royal Airforce Staff college di Andover, Inggris.

19 Januari 1962, Omar Dhani dilantik menjadi Menteri/KSAU menggantikan Laksamana Udara Surjadi Suryadarma yang mundur. (Kabinet Kerja III)

1963-1964, Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara Kabinet Kerja IV.

24 Februari 1966 - 28 Maret 1966, Menteri/Komandan Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang (KOPELAPIP) Kabinet Dwikora II.

24 November 1965, Omar Dhani diberhentikan sebagai KSAU karena dituduh terlibat G30S PKI karena membiarkan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) berlatih di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma yang menjadi kewenangannya.

Desember 1966, Mahmilub memutuskan hukuman mati dan mencabut semua pangkat dan bintang Omar Dhani.

2 Juni 1995, Omar Dhani bersama Dr. Soebandrio mendapat grasi.

15 Agustus 1995, Omar Dhani, suami Sri Wuryanti, menghirup udara segar.

Riwayat Hidup Umar Dhani:
Lahir di Solo, 23 Januari 1924, meninggal dunia 24 Juli 2009 di Jakarta.

Riwayat pendidikan Umar Dhani

Hollandsch Inlandsche School (HIS) Klaten, Jawa Tengah , Klaten tahun 1937.
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Kristen, Solo tahun 1940.
Algemeene Middlebare School (AMS) B di Yogyakarta sampai kelas II, tahun 1942
Sekolah Menengah Teknologi (SMT) tahun 1946.
TALOA Academy of Aeronautics, Bakersfiels, California tahun 1952
RAF Staff College, Andover, Inggris tahun 1957.
 
Politics Blogs Politics Blogs - Blog Rankings TopOfBlogs Top Politics blogs